Angkat Tema Suara Demokrasi, BGP Lampung Apresiasi Panen Gelar Karya di Metro

NTV | METRO – Balai Guru Penggerak (BGP) Provinsi Lampung memberikan apresiasi atas pelaksanaan panen gelar karya Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) pada kelas 7 dan 8 di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Kota Metro.

Kegiatan yang salah satunya mengangkat tema suara demokrasi merupakan upaya literasi pengenalan demokrasi bersih sedini ditingkat pelajar. Yang mana kegiatan kolaborasi antara pelajar, guru dan wali murid, Rabu (29/5/2024).

Kepala BGP Provinsi Lampung, Dra. Suriatanti Supriyadi menjelaskan bahwa projek P5 merupakan bentuk edukasi di sekolah penggerak. Peran guru dan wali murid memberikan dampak positif terhadap minat belajar siswa.

“Project P5 ini merupakan salah satu edukasi dari sekolah khususnya di sekolah penggerak, bagaimana anak-anak melakukan suatu kolaborasi dan kerjasama. Dalam 6 elemen P5 itu terwujud dalam satu kegiatan panen karya ini,” kata dia saat diwawancarai awak media, Rabu (29/5/2024).

“Saya melihat sangat luar biasa, tadi sudah saya sampaikan bahwa dari luar saja saya sudah merasa bawa sekolah ini adalah sekolah penggerak,” sambungnya.

Dra. Suriatanti juga mengapresiasi keterlibatan sejumlah pihak termasuk peranan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Metro dalam pelaksanaan panen gelar karya di SMPN 1 Metro tersebut.

“Kita sudah menyaksikan bahwa ini adalah kolaborasi yang sangat luar biasa dari anak-anak, kepala sekolah guru dan keterlibatan dari orang tua murid yang senantiasa mendukung aktivitas anak-anak di sekolah. Kemudian ada pula dinas pendidikan yang terus berkolaborasi dan menjadi orang tua dari sekolah-sekolah yang ada di kota Metro,” jelasnya.

Dirinya juga meminta sekolah penggerak SMP Negeri 1 Metro untuk dapat melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan P5 dan penerapannya pada peserta didik.

“Yang perlu ditingkatkan tentunya kita harus mereview apa yang sudah dilakukan disini. Apakah unsur-unsur P5 itu sudah ada dalam aktivitas anak-anak. Intinya adalah tidak perlu untuk mewah, ini sebenarnya terlihat mewah tetapi ini adalah hasil kerjasama,” terangnya.

“Mungkin sekolah hanya mengeluarkan sedikit anggaran tetapi bisa nampak mewah karena adanya kolaborasi luar biasa dari aktor-aktor pendidikan yang ada di SMPN 1 ini. Tadi sudah saya sampaikan bahwa mohon kepada ibu kepala sekolah untuk mengimbaskan ke sekolah-sekolah lainnya agar bisa seperti ini,” imbuhnya.

Dalam kesempatan itu, Kepala Disdikbud Kota Metro, Suwandi melalui Kabid Pembinaan Pendidikan Dasar (Dikdas), Fezal Aferizal menyampaikan bahwa setiap sekolah di Metro memiliki karakteristik yang berbeda.

“Kalau catatan khusus tidak ada karena keragaman dan perbedaan karakteristik itu kan menyesuaikan keadaan sekolah masing-masing. Itulah yang disebut seni kemudian itulah yang disebut rapor pendidikan yang berbeda-beda hasilnya,” ujarnya.

Meskipun begitu, dirinya memastikan bahwa seluruh sekolah setingkat SD hingga SMP di Kota Metro telah mempraktekkan kurikulum merdeka.

“Semua sekolah pasti melakukan P5, kita termasuk daerah yang SD dan SMP-nya sudah 100 persen melaksanakan kurikulum merdeka. Hampir semua mapel pasti terintegrasi terkait dengan itu, kebetulan tema yang lengkap dan variatif Ini baru pertama kali dilakukan di SMP Negeri 1,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala SMPN 1 Metro, Fatimah menjelaskan target dari sejumlah program yang dipertontonkan dalam panen gelar karya tersebut.

“Goals kita sesungguhnya, harapan kita adalah bahwa anak-anak kita ini agar menjadi profil pelajar Pancasila. Dan ini upaya semakin mempercepat proses menuju ke sana. Dapat melahirkan anak-anak yang berkarakter, bertanggung jawab, berketuhanan, bermartabat, mandiri, kreatif dan inovatif. Kemudian mereka dapat bersaing di era global,” bebernya.

Tak hanya itu, dirinya mengungkapkan bahwa tema suara demokrasi di buat sebagai sarana edukasi bagi pelajar yang akan menjadi pemilih pemula kedepannya. Terlebih, tahun ini kota Metro bakal menggelar Pilkada serentak 2024.

“Yang menarik ada tema suara demokrasi yang mana ini merupakan bentuk pengenalan demokrasi kepada para pelajar. Jadi di sini kita ingin menyampaikan bahwa berdemokrasi secara sehat sejak dini itu dapat dilakukan,” terangnya.

“Kita mempersiapkan bahwa nantinya mereka akan menjadi pemilih pemula, ini yang merupakan salah satu tugas kita sebagai pendidik di sekolah ini. Jadi kita buatkan mereka itu pada acara dan momen pemilihan pengurus OSIS,” tandasnya. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *